Kamis, 20 September 2012

Pendidikan Seni Tari ituuuuu????


Entahlah....kenapa tiba-tiba tanganku “gatal” untuk menuliskan ini semua. Berbagi...hmm...ya..mungkin aku akan berbagi padamu, teman. Berbagi tentang pengalamanku, mengapa, kenapa, kok bisa, aku masuk di jurusan ku saat ini dan pandangan orang tentang seni tari.

“Kuliah di mana?”, tanya seseorang suatu hari kepadaku.
“UPI (Universitas Pendidikan Indonesia)”, jawabku.
“Waahh...hebat euy, calon pendidik dong yaa... jurusan apa di UPI nya??”, tanya orang itu lagi.
“Pendidikan Seni Tari”, jawabku sambil tersenyum.
“Seni Tari....ooooo...koq mau ngambil jurusan seni tari??”, tanya orang itu lagi, dengan tatapan ‘sedikit’ meremehkan.

Lain waktu dan lain tempat...
“Kuliah di mana neng?” tanya seorang ibu yang kebetulan satu angkot denganku.
“Di UPI, Bu...”
“Jurusan apa?”
“Pendidikan Seni Tari, Bu”
“Oooo....koq mau neng masuk jurusan seni tari, kan banyak neng jurusan lain yang lebih mumpuni dan lebih berbobot. Mending keneh jurusan musik neng, atau lukis, atau naon kitu...”

Satu lagi.....
“Kuliah di mano sekarang, Mel?”, seorang sahabat lama bertanya padaku
“Alhamdulillah di UPI”
“Jurusan apo?”
“Pendidikan Seni Tari”
“Ooo....seni tari...aiii...nari-nari terus yooo pas kuliah...enak kalau cak itu, dak susah payah kuliahnyo.... Semangat be yoo...moga suatu saat jadi penari terkenal.”, cerocosnya dengan begitu enteng dan tanpa rasa bersalah.

Seperti itukah yang ada di fikiran mereka tentang Jurusan Pendidikan Seni Tari????? (pemikiran yang begitu dangkal menurutku)
Kau tau, teman.... T.I.D.A.K. aku sedikitpun T.I.D.A.K. P.E.R.N.A.H malu mengakui bahwa aku anak seni, seni tari khususnya. Kalian mungkin berfikir kuliah di seni tari itu mudah, gampang, enteng, tidak susah, santai, dan menyenangkan. OKE...benar. Anggapan itu benar, tapi tidak sepenuhnya benar.
Silahkan tanya kepada setiap orang yang kalian temui, khususnya mahasiswa, apa pendapat mereka tentang jurusan seni tari. Tidak sedikit yang meremehkan dan bahkan dengan mudahnya berkata, “ya gampang lah, tinggal nari-nari aja apa susahnya. Tiap hari praktek.”, bahkan dengan telingaku sendiri aku pernah mendengar seseorang yang tanpa rasa bersalah sedikitpun berkata “Hmmm...anak seni tari mah, pinter praktek nari doang, otaknya mah rada cetek.”(dalam hal ini si orang yang berkata itu tidak tau bahwa aku, aku yang duduk di sampingnya adalah anak seni tari). ASTAGHFIRULLAH....  Sakit, sesak, dan panas hati ini mendengarnya. Sebegitu kecilnya penghargaan kalian terhadap jurusanku. Kalau tak ingat akan Tuhan Yang Maha Pemaaf dan Maha Penyayang mungkin tangan dan kaki ku sudah melayang ke muka orang yang tidak pernah belajar(*baca: kurang ajar) tersebut.
Baiklah, kan ku ajak kalian ke masa kurang lebih 3 atau 3,5 tahun yang lalu, ketika aku masih berada di bangku SMA kelas XII. Ketika semua siswa-siswi sibuk dengan formulir PMDK di tangannya, ketika semua orang sibuk menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk persyaratan PMDK masuk universitas, ketika Kepala Sekolah ku tercinta (Mr Z) tiap hari sibuk berkoar-koar tentang nama-nama universitas yang sudah memberikan formulirnya ke sekolahku, ketika semua orang sibuk berceloteh ria ”daftar ke mano?” “ngambek jurusan apo?”, ketika semua sibuk dan tenggelam dengan formulir-formulir PMDK, aku....aku bingung, jujur aku bingung aku akan mendaftar PMDK di universitas mana. Sedikit berbangga teman, SMA ku memang berada di kabupaten, tapi jangan kau remehkan prestasi-prestasinya, nama baiknya, akreditasinya, sebagai sekolah rintisan bertaraf internasional tidak sulit bagi siswa-siswi nya untuk didaftarkan ke universitas-universitas terkenal di Indonesia, USU Medan, UNSRI Palembang, Univ Andalas Padang, UNP, UI, IPB, UNILA, UGM, UNY, UIN Sunan Kalijaga, UIN Syarif Hidayatullah, UNIBRAW, UN 11 MARET, ITS, UNRI, UNM, UNDIP, UNESA, UNSOED, UNJ, Univ Udayana Bali, dan lain-lain termasuk juga Universitas Pendidikan Indonesia (kampusku saat ini). Nahh...itu juga lah yang membuatku bingung, karena terlalu banyak tawaran-tawaran tersebut yg diperuntukkan bagi siswa-siswi kelas XII. Sempat berfikir mendaftar ke UI? Haha...sepertinya terlalu bergengsi fikirku. UNSRI?? Hmmm...terlalu dekat, masih di Palembang ini, kalau muter-muter di sini saja kapan berkembangnya pikirku waktu itu (harap maklum, sifat asli orang sumatera itu adalah berkelana dan merantau alias tidak suka kurung batokeun kalau kata orang sunda, hehhe). UGM??  Hmm..tidak...tidak... Kalau IPB???? Memang sih sempat terfikir ingin masuk IPB dan mengambil jurusan manajemen agribisnis, tapi setelah sharing dengan orang tua akhirnya proposal ke IPB tidak diACC. Akhirnya tujuanku jatuh pada dua pilihan, Universitas Negeri Padang dan Universitas Pendidikan Indonesia Bandung (kalau UPI, sejujurnya pure alias murni atas permintaan orang tuaku, aku masih setengah hati dulunya). Jurusan apa yang ku ambil?? Di UNP aku mencoba mengambil jurusan Teknologi Pendidikan dengan program study Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, sedangkan di UPI aku mengambil Jurusan Pendidikan Sendratasik dengan program study Pendidikan Seni Tari (yg diawali dengan tes keterampilan menari, bulan Maret kalau tidak salah). Mengapa Seni Tari??? Bukan Seni Musik atau Seni Rupa??? Jawabannya gampang, karena aku tidak bisa memainkan alat musik selain gitar, nyanyi suara cempreng, ehm..kecuali kalau nyanyi di dalam hati...seni rupa??haha bisa jadi mahasiswa abadi nantinya, melukis, memahat, menggambar, mendesain, dan segala hal yang berbau seni rupa I can’t do it. Parah yaaa???? I.Y.A..!!!!!! Seni tari?? Dari kecil aku memang suka menari, semenjak TK, SD, SMP, bahkan SMA. Tapi itu hanya sekedar hobby, sedikitpun tidak pernah ku jadikan list cita-cita untuk kuliah di jurusan Seni Tari. T.I.D.A.K P.E.R.N.A.H.  Tapi itulah, Tuhan selalu menyediakan sesuatu yang tidak pernah terduga.
Tibalah saat pengumuman hasil PMDK. Alhamdulillah teman-teman, disaat orang-orang sibuk untuk ikut tes kesana kemari, di saat mereka bingung melanjutkan kuliah dimana, di saat semua orang berjibaku dengan tes ini tes itu, dengan rezeki Allah aku diterima di kedua universitas yang kupilih tersebut dengan jalur tanpa tes atau PMDK. Kebahagiaan dan rezeki Allah memang tak disangka.
Bingung, haha...bingung menentukan pilihan. Padang???? Bandung???? Padang???? Bandung???? Sejujurnya, hati kecilku yang paling dalam menginginkan kuliah di Universitas Negeri Padang. Tapi orang tuaku mati-matian memintaku untuk kuliah di Bandung, di UPI. Alasannya sederhana; karena di Padang aku tidak punya kerabat, sedangkan di Bandung kerabat dari keluarga ayahku bejibun banyaknya, jadi kalau ada apa-apa ada yang ngurus, begitu fikir mereka. Harap maklum...harap maklum...anak perempuan satu-satunya nihhh.. ^_^
Hmm...dengan masih setengah hati dan setengah berat hati, aku menuruti keinginan mereka. Lagipula kata orang tidak baik membangkang keinginan orang tua, takut kualat alias kena batunya. Jadilah aku...AMELIA NOVIA SARI, calon mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia, Jurusan Pendidikan Seni Tari. (masih calon, kan belum ke bandung. Masih di rumah ceritanya...^^). Sedikit flashback...sebenarnya ibuku tercinta ingin anak perempuannya ini masuk jurusan yang berhubungan dengan kesehatan, seperti Akbid, Akper, SKM, dll, syukur-syukur kalau kedokteran...Hahahha. Tapi.....karena lubuk hati, relung hati, palung hati yang terdalam sedikitpun tidak ada keinginan dan niat bekerja di bidang kesehatan, dan pada saat itu aku mati-matian juga menolak ketika disuruh daftar di AKBID, ibuku yang cantik pun luluh juga hatinya. Sebagai gantinya, aku agak di‘paksa’ untuk masuk UPI.
Awalnya, pemikiranku sama seperti orang-orang yang telah kusebutkan sebelumnya, memandang seni tari itu gampang. “Aku kan hobby nari, bisa nari, Hmm...gampanglah nanti kuliahnya...gk ribet-ribet amat” begitulah yang kufikirkan sebelum berangkat ke Bandung dan memulai perjalanan kuliahku. Selain itu, di provinsi tempat ku tinggal tidak banyak yang mengambil jurusan seni, jadi orang tuaku berfikir bahwa jika setelah lulus nanti insyaAllah akan mudah diterima kerja. Syukur-syukur jadi PNS kata mereka (ujung-ujungnya PNS juga kan, hahhahahah. Aamiin...aamiin...). itulah sebabnya aku kuliah di UPI, bukan di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) atau ISI (Institut Seni Indonesia). Aku ingin menjadi guru, jadi pendidik tari, BUKAN penari. Perlu digarisbawahi-dicetak tebal-dicetak miring-distabilo pink, BUKAN PENARI. Apa bedanya???? Hoooooo.....jelas-jelas beda yaaa, seorang penari konotasinya akan akrab dengan kalimat2 tampil di pentas-pentas seni, manggung, dll. Sedangkan pendidik tari, adalah mengajarkan kepada anak didik(walaupun kadang ada juga yang nabeuh gitu buat sampingan..^^).
Sekarang kembali kepada pendapat orang-orang tentang jurusan seni tari, ehm..maksudnya jurusan Pendidikan Seni Tari. Suatu hal yang perlu kalian tau ya teman2-kawan2-sahabat2-sodara2, aku Jurusan Pendidikan Seni Tari, bukan Jurusan Seni Tari. Ada kata Pendidikan sebelum kata Seni Tari. Aku dan teman-temanku di jurusan dituntut menjadi SEORANG PENDIDIK dan bukan SEORANG SENIMAN. Mata kuliah yang kami ambil pun tak banyak perbedaan dengan mata kuliah di jurusan2 lain di UPI yang kebanyakan berhubungan dengan kependidikan. Landasan Pendidikan, Perkembangan Peserta Didik, Kurikulum Pembelajaran, Pengelolaan Pendidikan, Bimbingan dan Konseling, Evaluasi Pembelajaran, Perencanaan Pembelajaran, Media Pembelajaran, Metode Penelitian, PLSBT, Pendidikan Agama, PKn, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Apresiasi Bahasa dan Seni, Kewirausahaan, Statistika, KKN, PLP, Skripsi, dan lain-lain. Adakah bedanya???? Sama bukan??? Yang membedakan hanya beberapa mata kuliah jurusan saja, karena konsentrasi jurusan ku adalah seni tari, jadi otomatis ada beberapa mata kuliah juga yang berhubungan dengan seni tari. Semua praktek??? Sekali lagi anda semua S.A.L.A.H. salah besar jika anda beranggapan seperti itu. Pernah mendengar mata kuliah Antropologi Tari, Estetika Tari, Study Teater, Sejarah Tari, Manajemen Pertunjukkan, Etnokoreologi, Kritik Tari, Tarpend Dasar, Tarpend Lanjutan, Kajian Kurikulum dan Telaah Buku Teks, Teknik Tata Pentas, dan Notasi Laban??????????????????? Mungkin akan jarang kalian temukan di jurusan-jurusan lain. Tapi itulah yang membuat jurusanku berbeda dengan yang lain. Notasi Laban???????? Makhluk seperti apakah itu??? Aku yakin seyakin-yakinnya selain orang yang berkecimpung di jurusan seni tari, akan sangat dan teramat sangat sedikit ditemukan orang yang mampu dan paham dengan itu. Karena mata kuliah itu hanya ada di Jurusan Pendidikan Seni Tari, di JURUSAN KU. Tidak seperti notasi balok atau notasi angka pada seni musik, orang-orang selain seni musik pun lumayan banyak yang mampu membaca notasi musik dan paham akan hal itu. Jadi sekali lagi perlu ditekankan, jangan sekali-kali menganggap remeh jurusanku dan orang-orang di dalamnya.
Gampang? Mudah??? Perlu kalian tau, setiap semester, bahkan dari semester awal menjadi mahasiswa, aku dan teman-teman selalu dijejali dan dihadapkan kepada kegiatan Pergelaran, entah itu Komposisi Tari Anak, Komposisi Tari Lanjutan, Teater, bahkan dalam waktu dekat ini Pergelaran Drama Tari. Apa kalian pikir memanage dan membuat sebuah karya itu mudah? Apa kalian pernah berpikir bagaimana susahnya mengatur jadwal kuliah dengan kegiatan pergelaran, belum lagi jika ada amanah-amanah di luar perkuliahan (organisasi, les, dll), belum lagi memikirkan dana untuk pergelaran tersebut, pontang-panting keluar masuk perusahaan2 mengajukan proposal, belum lagi untuk menyediakan waktu latihan, belum lagi untuk mengatur tata panggung, dekorasi, lighting, belum lagi jika tugas-tugas kuliah yg lain menumpuk. Tidak semua yang kalian pikirkan tentang seni tari itu benar, wahai saudara-saudara.... 
Dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 disebutkan bahwa 1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: (a) pendidikan agama, (b) pendidikan ke-warganegaraan, (c) bahasa, (d) matematika, (e). ilmu pengetahuan alam, (f). ilmu pengetahuan sosial, (g) seni dan budaya, (h) pendidikan jasmani olah raga dan kesehatan. (Inget yaa..ini Undang-Undang yang bilang, bukan aku)
Yang perlu diamati baik-baik adalah point ke-7 atau ke-g, SENI DAN BUDAYA. Satu hal lagi yang perlu ditekankan dan dicermati oleh setiap orang, kalau memang Pendidikan Seni Tari itu tidak penting atau tidak diperlukan atau tidak terlalu berperan dalam dunia pendidikan,
MENGAPA DI UNDANG-UNDANG KURIKULUM PENDIDIKAN NASIONAL DICANTUMKAN MATA PELAJARAN SENI TARI???
MENGAPA ADA SILABUS MATA PELAJARAN SENI TARI???
MENGAPA PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PADA TAHUN 2007 MEMBUAT KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM SENI BUDAYA YANG DI DALAMNYA TERMASUK SENI TARI???
Adakah yang bisa menjawab???
Itu karena kesejahteraan bangsa Indonesia di masa depan bukan hanya bersumber pada sumber daya alam dan teknologi yang mumpuni, tetapi juga pada keunggulan seni budaya lokal yang tidak dimiliki bangsa lain. Seni budaya ini tertuang dalam seni musik, seni rupa, dan seni tari. Lagu Rasa Sayange...mengapa bisa diklaim negara tetangga sebagai miliknya?? Itu karena tidak adanya kesadaran untuk mencintai budaya lokal dan budaya asli Indonesia. Batik?? Mengapa negara tetangga juga ikut-ikutan mengklaim bahwa batik adalah asli dari negara mereka?? Itu juga karena kesadaran masyarakat Indonesia yang kurang dalam menjaga dan mencintai kriya seni rupa di negeri ini. Tari Pendet?? Lagi-lagi masuk ke dalam daftar khasanah budaya yang akan segera ‘direbut’ oleh tetangga. Mengapa hal itu bisa terjadi??? Sederhana, jawabannya sederhana; hanya karena masyarakat Indonesia tidak mau dan tidak mempunyai kesadaran untuk mencintai budaya lokal yang semakin lama semakin terkikis oleh globalisasi. Itulah sebabnya Kurikulum Seni Budaya DIADAKAN di kurikulum pendidikan nasional Indonesia. MUSIK, RUPA, dan TARI, suatu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat namun acapkali dipandang sebelah mata. Yaahh...syukur-syukur dipandang sebelah mata, malah terkadang ada yang tidak menganggapnya ada, tidak dianggap penting, hanya pelengkap.
Sekarang fikirkan..apa jadinya Indonesia jika tidak berkesenian dan berbudaya????
Itulah sebabnya mengapa harus ada pendidik seni dan budaya, sodara-sodara.... Apakah kita rela suatu saat anak-anak dan cucu-cucu kita teraliri oleh arus budaya global yang menurutku lebih banyak efek buruknya. Sekali lagi, seorang PENDIDIK SENI...tidak mendidik dan menginginkan siswa-siswa yang dididik kelak menjadi penari, pandai menari, pandai menyanyi saja, teriak2 tidak jelas, melukis semaunya, menjadi seniman awut-awutan. TIDAK. Sekali lagi TIDAK. Seni budaya memberikan sumbangan kepada siswa agar berani dan bersikap bangga akan budaya bangsa sendiri dan menyokong dalam menghadapi tantangan masa depan. Hal ini dikarenakan kompetensi dalam mata pelajaran ini merupakan bagian dari pembekalan life skill kepada siswa. selain itu  orientasi mata pelajaran Seni budaya adalah memfasilitasi pengalaman emosi, intelektual, fisik, konsepsi, sosial, estetis, artistik dan kreativitas kepada siswa dengan melakukan aktivitas apresiasi dan kreasi terhadap berbagai seni dan budaya di sekitar siswa yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Satu lagi yang perlu diketahui, manfaat seni dalam pendidikan adalah (a) Seni membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, (b) Seni membina perkembangan estetik, (c) Seni membantu menyempumakan kehidupan. (AY. Soeharjo, 1977).
Mengutip dari apa yang pernah diucapkan oleh salah satu dosen saya, seni memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual, karena mengembangkan kemampuan mengekspresikan diri dengan berbagai cara dan media, seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. Multidimensional, karena mengembangkan kompetensi meliputi persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi dan produktivitas dalam menyeimbangkan fungsi otak sebelah kanan dan kiri, dengan cara memadukan secara harmonis unsur-unsur logika, kihestetik etika, dan estetika. Multikultural, karena mengandung makna seni budaya menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap keragaman budaya Nusantara dan mancanegara sebagai wujud pembentukan sikap menghargai, bertoleransi, demokratis, beradab, serta mampu hidup rukun dalam masyarakat dan budaya yang majemuk (jadi gak akan ada lagi tuh klaim-mengklaim budaya).
Seni budaya memiliki peranan dalam pembentukan pribadi siswa yang harmonis dalam logika, rasa estetis dan artistiknya, serta etikanya dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan adversitas (AQ) dan kreativitas (CQ), serta kecerdasan spiritual dan moral (SQ) dengan cara mempelajari elemen-elemen, prinsip-prinsip, proses dan teknik berkarya sesuai dengan nilai-nilai budaya dan keindahan serta sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap saling memahami, menghargai, dan menghormati keberagaman.
Tuh, lengkap yaa...ada EQ, IQ, AQ, CQ, bahkan SQ. Jadi sungguh picik dan dangkal pengetahuan orang-orang yang menganggap orang-orang tari itu ‘ilmunya cetek’, ‘otaknya gak ada’, ‘teori nol besar’, dan anggapan-anggapan meremehkan yang lain. Justru sebaliknya, orang-orang yang berkata seperti itulah yang ‘ilmunya cetek’. Tidak paham keberagaman kebudayaan, padahal jelas-jelas hidupnya dipenuhi dengan budaya dan kesenian. Tiap hari mendengarkan musik-musik dari mp3, mp4, ponsel, dll. Apa itu bukan seni? Ngefans sama Super Junior, SNSD/ Girls Generation, Wonder Girl, SHINee, dan artis-artis Korea yang lain..bahkan SM*SH sekalipun, tiap tampil selalu diwarnai dengan dance kan??? (esmossi nihh..esmossii... $_$)
Satu lagi keunggulan orang seni, AWET MUDA. Terbukti...dosen-dosen di jurusan aku beberapa sudah lebih dari 50 tahun, tapi raut wajahnya masih seperti usia 40an. Yang 40 seperti usia 30an. Bahkan mahasiswa-mahasiswinya pun begitu, masih seperti baru masuk tingkat 1 (ini khusus untuk angkatan 2008 saja, hehehheheehhe). Ada anggapan bahwa orang-orang seni hanya pintar berekspresi melalui seni, khususnya seni tari, hanya bisa praktek tari doang. Ini juga perlu digarisbawahi-dicetaktebal-dicetakmiring-distabilo di otak saudara-saudara,  dosen-dosen saya banyak yang sudah S3, bahkan ada yang menjadi guru besar. Jadi tolong diperbaiki pemikiran yang mengatakan bahwa orang-orang seni itu bodoh.
Sekali lagi saya tekankan, hanya orang-orang yang berpikiran dangkal dan cetek, yang akan menganggap seni tari itu gampang, tidak penting, dan tidak diperlukan.
Harap saudara-saudara berpikir ulang lagi....
Saling menghargai keragaman dan menghargai profesi orang lain.

Tertanda,,,
Saya yang tidak terima jika ada yg meremehkan jurusan saya
AMELIA NOVIA SARI

@Gegerkalong, kost-an 7B
03 Mei 2011, Selasa. 15.45 WIB